Jumat, 14 Desember 2012

Sejarah - Awal Mula Agama Islam di Jazirah Arab


 Sebelum agama Islam berkembang di Arab.
        Sebelum agama Islam berkembang di Jazirah Arab, agama Yahudi dan Kristen / telah berkembang ke Jazirah Arab. Namun, bangsa arab kebanyakan masih menganut agama asli mereka. Daerah Jazirah Arab dibagi dalam 3 bagian besar, yaitu:
1.    Selatan Jazirah Arab
Terdapat kaum Qathaniyun (keturunan Qathan) yang mendirikan kerajaan Saba’ (kota pusat perdagangan) dan kerajaan Himyar.

2.   Utara Jazirah Arab
a.   Hidup kaum Qathaniyun dan Adnaniyun (keturunan Ismail bin Ibrahim).
b.   Terdapat Kerajaan Hirah yang berada di bawah perlindungan Persia. Berkembang pada abad ke-3 hingga munculnya islam.
c.   Terdapat Kerajaan Ghassan yang berada di bawah perlindungan Romawi. Berkembang pada abad ke-3 hingga munculnya islam.

3.   Daerah Hijaz
a.   Tidak pernah dijajah oleh Bangsa lain.
b.   Daerah yang sulit dijangkau, tandus dan miskin.
c.   Kota terpenting adalah Mekkah, di Mekkah terdapat Kakbah.
d.   Penguasa yang terkenal adalah Qushai dan Quraisy.

Ciri-ciri Negara Arab sebelum munculnya agama Islam:
·        Arab merupakan kawasan yang tidak maju.
·        Keadaan masyarakat sangat kacau.
·        Kebanyakan orang Arab merupakan penyembah berhala.
·        Sebagian orang Arab merupakan pengikut agama Kristen dan Yahudi.
·        Setiap orang berkelakuan semaunya sendiri.
·        Keributan terjadi dimana-mana.
·        Zaman zahiliyah.

Masa Awal Perkembangan Islam
        Agama Islam lahir dan tumbuh di Jazirah Arab, tepatnya dikota Mekkah. Agama ini pertama kali diperkenakan oleh Nabi Muhammad SAW, sekitar abad ke-7 M.
        Pada awal perkembangannya, agama Islam sangat ditentang oleh masyarakat Mekkah, terutama oleh pemimpin-pemimpin suku Quraisy. Menurut Ahmad Syalabi, 5 faktor yang mendukung suku Quraisy menentang seruan islam yaitu:
1.    Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan.
2.   Nabi Muhammad SAW menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya. Atau disebut dengan tidak adanya perbudakan.
3.   Para penmimpin Quraisy tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di akhirat.
4.   Patuh kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berakar pada bangsa Arab.
5.   Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rezeki.
Suku Quraisy
        Quraisy berasal dari Bahasa Arab yang artinya adalah suku bangsa Arab keturunan Ibrahim as. Mereka tinggal dan hidup di Mekkah dan daerah sekitarnya. Quraisy yang hidup di Mekkah disebut Quraisy Lembah, sementara yang lain tinggal lebih jauh mengelilingi Mekkah dikenal dengan Quraisy Pinggiran.
        Penamaan Quraisy berasal dari Fihr yang merupakan leluhur Nabi Muhammad SAW, nabi dan rasul utama agama Islam. Dimana Fihr kemudian menurunkan sampai Qushay bin Kilab.
Garis Keturunan Suku Quraisy:
1.    Ba’idah artinya punah.
Merupakan suku yang pernah tinggal di Jazirah Arab dan telah punah. Sejarah mereka sedikit sekali yang dapat diketahui, kebanyakan berasal dari Perjanjian Lama dan Al-Qur’an. Selain itu dari penggalian-penggalian arkeologis yang ditemukan. Mereka termasuk ‘Ad, Tsamud,  Tasam, Jadis, Imlaq dan lainnya.

2.   Qahtani
Menurut dugaan mereka berasal dari keturunan Ya’rub bin Yasyjub bin Qahtan bin Hud, sering pula dikenal dengan Arab Qahtan. Mereka kebanyakan tinggal di Yaman dan kemudian menyebar ke daerah lainnya. Peradaban mereka diketahui cukup tinggi. Dibuktikan dengan penemuan-penemuan arkeologis yang mengungkapkan cara kehidupan mereka. Keturunan dari Qahtani ini ada yang menyebar sampai ke Yatsrib, nama kuno untuk Madinah, yaitu Bani ‘Aus dan Bani Khazraj yang dikenal sebagai Kaum Anshar.

3.   Adnani
Mereka diduga berasal dari keturunan Ismail as melalui anaknya Adnan. Ada juga yang menyebut Arab Adnan. Quraisy termasuk cabang dari ini.

Quraisy menjadi suku terkemuka di Mekkah sejak sebelum kelahiran Muhammad SAW dan pada dasarnya menguasai kota. Sebelum kelahiran Muhammad SAW, suku ini terbagi menjadi beberapa klan, masing-masing memiliki tanggung jawab yang berbeda atas kota Mekkah dan Ka’bah. Terjadi rivalitas antar klan, dan makin meruncing selama nabi Muhammad SAW hidup. Beberapa pemimpin klan tidak menyukai klaim nabi Muhammad saw akan kenabian dan mencoba menghentikannya dengan menekan pemimpin Bani Hasyim saat itu, Abu Thalib. Banyak pula dari klan tersebut yang menghukum pengikut nabi Muhammad SAW, seperti melakukan boikot. Hal inilah yang menyebabkan keluarnya perintah hijrah ke Ethiopia, dan kemudian ke Madinah.
        Setelah Penaklukan Kota Makkah pada tahun 630 M, nabi Muhammad SAW memaafkan orang Quraisy yang sebelumnya menekan dan memusuhinya, kedamaian terjadi. Setelah meninggalnya nabi Muhammad SAW, rivalitas klan meningkat, terutama siapa yang berhak menjadi Khalifah, hal yang menyebabkan terjadinya pemisahan Sunni dan Syi’ah.
Banyak cara yang dilakukan para pemimpin suku Quraisy untuk mencegah dakwah Nabi Muhammad SAW, yaitu:
Ø Bujuk rayu.
Ø Ancaman pembunuhan.
Ø Fitnah.
Ø Penyiksaan terhadap penduduk yang beragama Islam.
Melihat kekejaman yang dilakukan oleh suku Quraisy, Nabi Muhammad SAW mengungsikan para sahabatnya keluar dari Mekkah. Mula-mula mereka pergi ke Habsyah (Etiopia). Habsyah (Etiopia)  memiliki seorang raja yang toleransi beragamanya tinggi, walaupun Raja Majasi ini memeluk agama Kristen, Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya mendapat perlakuan baik dari Raja Majasi.
Setelah mereka mengungsi ke Habsyah (Etiopia), mereka pindah ke Yatsrib (Madinah). Atas permintaan sahabatnya, Nabi Muhammad SAW kemudian menyusul hijrah dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah). Di Madinah, Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya diterima dengan baik, karena kedatangan mereka telah dinanti-nantikan.
Madinah merupakan titik tolak perkembangan Islam, agama Islam kemudian menyebar hingga ke seluruh dunia. Di kota itulah pertama kalinya terbentuk masyarakat Islam sebagai kekuatan politik, Nabi Muhammad SAW tidak hanya berkedudukan sebagai pemimpin agama tetapi juga sebagai pemimpin masyarakat. Nama kota Yatsrib kemudian diubah menjadi Madinatul Munnawwarah (Kota yang bercahaya).
Masa Kekhalifahan
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, muncullah para khalifah (wakil pengganti) Rasul Allah. Para khalifah ini hanya menggantikan dalam hal mengatur hidup kaum Muslimin menurut agama Islam. Masa kekhalifahan Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq sampai Khalifah Ali bin Abi Thalib biasa disebut dengan Khulafa’ur Rasyidin (Pengganti Rasulullah yang bijaksana).
Khalifah yang pernah berkuasa diantaranya, adalah:
1.     Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq
-         Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq merupakan khalifah pertama setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
-         Masa kepempininannya hanya 2 tahun (632-634).
-         Terjadi perang Riddah (perang yang dilakukan kaum muslimin melawan kemurtadan).
-         Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq berhasil mengembalikan suku-suku Arab ke jalan Islam dan membasmi nabi-nabi palsu, seperti Tulaiha.
-         Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq mulai mengumpulkan lembaran surat-surat Al-Quran.

2.     Khalifah Umar bin Khattab
-         Masa kepemimpinannya adalah 10 tahun (634-644).
-         Melakukan gelombang ekspansi ke luar daerah Arab.
-         Kekuasaan Islam telah mencakup Jazirah Arab, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia, dan Mesir.
-         Khalifah Umar bin Khattab mendirikan Baitul Maal, menempa uang, dan menciptakan Tahun Hijriah.
-         Khalifah Umar bin Khattab dibunuh oleh seorang budak Persia yang bernama Abu Lu’lu’ah.
3.     Khalifah Usman bin Affan
-         Khalifah Usman memerintah selama 12 tahun (644-655).
-         Kitab Al-Quran secara resmi dibukukan.
-         Beliau membangun bendungan yang menjaga arus banjir dan mengatur pembagian air ke kota-kota.
-         Beliau juga membangun jalan-jalan, jembatan, masjid, dan memperluas masjid Nabi Muhammad di Madinah.
-         Kekuasaan Islam meluas hingga ke daerah Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, sebagian Persia, Transoxania, dan Tabaristan.
-         Dalam masa pemerintahannya terjadi ketidakpuasan di kalangan umat Islam.
-         Beliau dibunuh oleh kaum pemberontak pada tahun 35 H (655)
4.     Khalifah Ali bin Abi Thalib
-         Masa pemerintahannya hanya 6 tahun.
-         Pada masa pemerintahannya, Khalifah Ali bin Abi Thalib menghadapi berbagai pergolakan.
5.     Khalifahan Ummayah
Setelah kedudukan khalifah dikuasai oleh keluarga Ummayah (661-750 M). Pusat kekuasaan negara Islam dipindahkan keluar Jazirah Arab, yaitu ke Syria(Damaskus).
Pada masa ini, dasar-dasar demokrasi Arab lenyap, karena jabatan khalifah dipegang secara turun temurun. Hidup khalifah sama dengan hidup raja dengan kekuasaannya yang mutlak.
Wilayah kekuasaaan negara islam pada masa ini meliputi wilayah yang sangat luas. Ke sebelah barat sampai ke daerah spanyol dan ke sebelah timur kedaerah Pakistan dan Asia Tenggara. Perluasan wilayah ini dilakukan oleh :
-         Musa memimpin tentara islam menyerbu kearah barat menyusuri daerah Afrika utara sampai Maroko. Perjalanan ini dilanjutkan oleh Tarik dan berhasil menduduki semenanjung Iberia serta menguasai Spanyol (712 M)
-         Muhammad Kasim berhasil menduduki daerah lembah sungai Shindu (721M)
-         Maslama memimpin tentara Islam menyerang konstatinopel tetapi trapserangan dapat dipukul mundur. Baru ada tahun 1453 M konstatinopel dapat dikuasai.
Pada tahun 750 M, terjadi perebutan kekuasaan terhadap keluarga Ummayah yang dilakukan oleh golongan Abbasiyah dalam perebutan kekuasaan itu, hampir seluruh keluarga Ummayah dimusnahkan. Hanya seorang yang berhasil meloloskan diri, yaitu Abdur Rachman.

6.     Kekhalifahan Abbasiyah
Pada masa ini pusat kekhalifahan dipinahkan dari Damaskus ke Bagdad. Kekhalifahan Abbasiyah (750-1258 M) mengalami perkembangan yang cukup pesat dan pada masa pemerintahan Harun Al Rasyid (786-809 M) mencapai puncak yang gemilang. Hal ini tak lepas dari :
-         Bagdad merupakan pelabuhan transito dan perdagangannya maju pesat
-         Buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan baik dari Yunani maupun dari Persiaditerjemahan kedalam bahasa dan huruf Arab
-         Harun Al Rasyid mengadakan persahabatan dengan Karel Agung (Perancis).Peristiwa ini terjadi berdasarkan situasi politik sebagai berikut :
a.   Bagdad bermusuhan dengan Byzantium dalam memperebutkan Asia kecil
b.   Bagdad bermusuhan dengan keamiran Cordoba dalam memperebutkan daerah pantai utara Afrika dan juga karena Cordoba tidak mau mengakui kekhalifahan Bagdad.
c.   Perancis bermusuhan dengan Cordoba dalam memperebutkan daerah
d.   Spanyol Utara, juga bermusuhan dengan Byzantium karena daerah Italia.
Dalam perebutan berikutnya kekhalifahan mengalami kemunduran. Hal inidisebabkan oleh :
a.   Terjadinya perebutan jabatan khalifah diantara keluarga sediri, sehinggadalam istana terdapat kelompok-kelompok yang saling bertentangan.
b.   Pertentangan itu mengakibatkan pemerintahan pusat menjadi lemah, sehinggadaerah-daerah bagian banyak yang memerdekakan diri
7.     Kekhalifahan Cordoba
Abdur Rachman, satu-satunya keturunan kekhalifahan Ummayah yang berhasil menyelamatkan diri dari serangan golongan Abbasiyah mendirikan kekhalifahan Cordoba di Spanyol. Beliau tetap menyebut dirinya Amir dan tidak mau mengakui kekhalifahan Bagdad. Baru pada masa kekuasaan Abdur Rachman III, Cordoba menyatakan dirinya sebagai khalifah dan kedudukannya seimbang dengan kekhalifahan Bagdad (929 M).
Pada jaman kekhalifahan Cordoba ilmu Pengetahuan dan kebudayaan berkembang pesat. Masjid-masjid banyak dibangun istana dan perpustakaan didirikan ahli-ahli bangunan, tabib, pengarang, ahli-ahli fikir, ahli pakaian danahli-ahli kemasyarakatan banyak terdapat di Cordoba.
Kemajuan dalam bidang kebudayaan itu mendorong orang-orang Eropa untuk  belajar di spanyol. Kebudayaan dari timur yang telah tinggi dan juga warisan kebudayaan Romawi danYunani Kuno yang telah hidang dari Eropa Barat,diketemukan kembali melalui Islam di spanyol.
Daerah kekuasaan Islam pada perkembangan selanjutnya makin sempit. Akan tetapi, pikiran-pikiran Islam makin meluas. Apabila mula-mula mempertahankan dan meluaskan pengaruh Islam dengan pedang, tetapi pada waktu-waktu berikutnya perluasan Islam dilakukan dengan jalan damai yaitu melalui perdagangan. Melalui perdagangan inilah Islam masuk ke wilayah Indonesia.

Faktor-faktor yang mendorong cepatnya penyebaran agama Islam di luar Jazirah Arab adalah sebagai berikut:
1.    Islam merupakan agama yang mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan, serta hubungan manusia dengan manusia lain dalam masyarakat.
2.   Islam mengajarkan pentingnya dakwah untuk menyebarluaskan agama Islam.
3.   Islam dating dengan sikap simpatik dan toleran, tidak memaksa rakyat untuk mengubah agamanya untuk memeluk agama Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar